Pura-Pura Memperjuangkan Islam

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Dulu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah, dikenal sekelompok orang yang zhahirnya berislam, namun batinnya kufur. Lisannya mengatakan iman, namun perilakunya menunjukkan sebaliknya. Itulah orang-orang munafik, yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka pura-pura beriman, namun pada hakikatnya mereka ingkar, mereka berdusta kepada Allah, Rasulullah, kaum muslimin dan diri mereka sendiri. Mereka menjadi duri dalam daging bagi kaum muslimin. Demi keamanan dan kemaslahatan pribadi mereka, mereka mengaku sebagai muslim, namun keseharian mereka menunjukkan bahwa mereka sedang menikam kaum muslimin dari belakang.

Tidak untuk menyamakan ataupun membandingkan, namun sekedar sebagai bahan introspeksi, bisa jadi ada orang-orang yang saat ini berada di barisan yang –katanya– memperjuangkan Islam, namun pada hakikatnya mereka hanyalah berpura-pura. Mereka berpura-pura memperjuangkan Islam, padahal hakikatnya mereka hanya mencari keuntungan dan kebanggaan duniawi.

Jika dikatakan munafik sebagaimana orang-orang munafik di masa Rasulullah, mungkin terlalu berlebihan. Menurut para ulama, orang-orang munafik di masa Rasulullah adalah orang-orang kafir yang pura-pura berislam. Keadaan mereka sama, bahkan lebih buruk, dari orang-orang yang jelas-jelas menyatakan kekufurannya. Sedangkan para pejuang Islam yang dimaksud di sini, bisa jadi batinnya memang benar-benar yakin akan keesaan dan kemahakuasaan Allah, yakin akan risalah yang dibawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yakin akan adanya hari akhir, namun kepura-puraan mereka terlihat dari bertolak belakangnya misi perjuangan Islam yang mereka usung dan lisankan, dengan perilaku mereka sehari-hari.

Mari kita tampilkan beberapa contoh sebagai gambaran.

Memperjuangkan Hukum Al-Qur’an, Tapi Jarang Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Memperjuangkan Islam berarti memperjuangkan hukum al-Qur’an dan as-Sunnah. Memperjuangkan sesuatu berarti meyakini kebenaran sesuatu tersebut. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup bagi manusia, ia adalah cahaya bagi hati, yang dengan mengikuti petunjuk di dalamnya kita akan keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Ia adalah pedoman kehidupan kita, baik hal-hal kecil sampai yang besar-besar. Membacanya merupakan bagian dari dzikrullah, yang akan menenangkan dan menenteramkan hati. Orang yang meyakini hal ini, tentu akan berusaha sesering mungkin berinteraksi dengan al-Qur’an, membacanya secara tartil, menghafalnya dan sekaligus mentadabburinya.

Apa jadinya jika ada yang mengaku sebagai pejuang Islam, mengklaim memperjuangkan diterapkannya hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, namun membaca satu halaman al-Qur’an tiap hari pun tak sanggup. Bagaimana bisa dikatakan mencintai al-Qur’an, jika membacanya saja belepotan, makharijul huruf-nya terbang ke mana-mana, panjang-pendeknya ditukar-tukar semaunya.

Bagaimana kita bisa menerima klaimnya, bahwa ia sedang memperjuangkan hukum al-Qur’an, jika ia sendiri tak berusaha mempelajari al-Qur’an tersebut. Dari sisi tajwid, tak usahlah kita menggunakan standar Syaikh Misyari Rasyid, minimal cukup bisa membedakan bacaan ث, س, ش, dan ص saja sudah lumayan. Jika tajwid saja bermasalah, apakah kita bisa percaya bahwa ia telah mempelajari ulumul Qur’an, nasikh-mansukh-nya, aam-khashsh-nya, asbabun nuzul dan tafsirnya. Apakah kita bisa percaya bahwa ia setiap hari mentadabburi al-Qur’an.

Apa jadinya jika si ‘pejuang Islam’ ini ternyata ketahuan keranjingan mempelajari banyak hal, tapi dari daftar yang ia pelajari tersebut tak ada pelajaran al-Qur’an di sana. Bisa jadi ia sedang getol belajar bahasa Inggris atau bahasa Mandarin, lagi semangat mengikuti latihan taekwondo, kursus nasyid dan musik Islami, rela membayar ratusan ribu untuk mengikuti pelatihan menulis novel, dan seterusnya, tapi ia tak punya waktu untuk memperbaiki bacaan al-Qur’annya, tak punya waktu mengikuti majelis tadabbur al-Qur’an yang diisi oleh ustadz yang kompeten.

Dengan kenyataan ini, tak bolehkah saya menyatakan bahwa ia hanya sedang berpura-pura memperjuangkan Islam?

Yang lebih parah dari hal ini ada lagi. Ia tak sekedar tidak mau mempelajari al-Qur’an atau berinteraksi dengan al-Qur’an secara intensif, bahkan ia mencibir orang yang melakukannya. Misalnya, ia menyatakan bahwa thalabul ‘ilmi tak ada hubungannya dengan dakwah, bahkan keseringan thalabul ‘ilmi akan menghambat aktivitas dakwah (???). Ini namanya salah konsep. Sudah salah, malah menyalahkan orang yang benar.

Memperjuangkan Syariah, Tapi Tak Mau Belajar Syariah

Syariah memang terkadang identik dengan fiqih, terkadang tidak identik. Tapi semua tentu sepakat, bahwa untuk mengenal Syariah Islam lebih dalam, kita tentu harus belajar fiqih secara dalam juga.

Nah, apa jadinya jika pejuang Syariah tak mau belajar Syariah?

Para pejuang Syariah tentu memahami bahwa yang sedang ia perjuangkan adalah penerapan Syariah dalam skala negara. Sebagian aturan Syariah Islam memang memerlukan negara untuk menerapkannya, dan negara sekuler tentu tak akan mau, kita perlu negara Islam. Negara Islam menjadi tuntutan wajib, karena sebagian Syariah Islam tak bisa diterapkan tanpa kehadirannya, kaidahnya maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa waajib.

Namun, jangan dilupakan juga, banyak aturan Syariah yang bisa diterapkan saat ini oleh kita, tanpa perlu menunggu tegaknya negara Islam dulu. Shalat misalnya, sebagai rukun Islam kedua sekaligus tiang agama, bisa kita laksanakan saat ini juga, tanpa perlu menunggu tegaknya negara Islam. Karena shalat hukumnya fardhu ‘ain, maka mempelajari fiqih shalat hukumnya fardhu ‘ain juga. Untuk mewujudkan kekhusyu’an dalam shalat, mentadabburi bacaan shalat merupakan sebuah keharusan, dan untuk bisa mentadabburinya, kita perlu mempelajari makna-makna yang terdapat padanya. Intinya, kita perlu belajar.

Puasa Ramadhan juga demikian. Demikian juga zakat, haji, dan bab-bab ibadah lainnya.

Dalam aspek muamalah, kita juga hampir tidak bisa menghindari aktivitas jual-beli dalam kehidupan sehari-hari. Jika itu menjadi kebutuhan kita, maka mempelajari fiqih jual-beli juga menjadi wajib bagi kita. Demikian seterusnya.

Memang belajar fiqih untuk memenuhi kebutuhan fardhu ‘ain kita tak harus sampai dalam sekali. Cukup sebatas yang diperlukan untuk menunaikan kefardhuan, sisanya sebagian orang saja yang mempelajarinya sudah cukup. Namun, apa jadinya jika ada seorang ‘pejuang Syariah’ yang tak mengerti fiqih Shalat. Hal-hal yang membatalkan shalat ia tak mengerti. Rukun shalat ia tak hafal. Syarat sah shalat ia gak mudeng. Apa layak ia disebut pejuang Syariah, jika aturan-aturan Syariah kesehariannya saja, ia tak tahu dan tak peduli.

Apakah ia mau mengatakan belajar fiqih shalat akan menghambat dakwah?

Yang ditulis di atas adalah kondisi minimalis. Padahal, seorang pejuang Syariah yang artinya juga seorang da’i, tak seharusnya memahami Syariah Islam secara minimalis. Yang berhak belajar Islam secara minimalis adalah tukang becak, yang kerja mulai ba’da shubuh sampai ba’da ‘isya hanya demi memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu, jika tak kerja, ia dan keluarganya tak makan. Atau seorang yang demi kemaslahatan umat, perlu mempelajari suatu bidang ilmu yang langka dan berkonsentrasi di dalamnya, misalnya seorang dokter spesialis, sehingga ia tak sempat mempelajari fiqih secara mendalam.

Dua kondisi yang saya sebut di atas tentu berbeda dengan umumnya kondisi da’i atau pejuang Syariah. Jika mereka punya banyak waktu luang untuk mengisi seminar dakwah, tabligh akbar, diskusi tokoh, atau tiap hari bisa berkunjung ke banyak tokoh untuk dakwah, mengadakan rapat ini dan itu, tentu sebagian waktunya tersebut bisa dialokasikannya untuk memperdalam pemahamannya terhadap Syariah, dengan belajar pada orang yang memang kompeten. Ini tentu tak perlu dibenturkan dengan dakwah. Thalabul ‘ilmi dengan dakwah seharusnya berjalan beriringan, saling mendukung, bukan malah dibuat seakan-akan saling membunuh.

Ingin Mewujudkan Kejayaan Islam, Tapi Islam Tak Terwujud Pada Dirinya

Setiap orang yang pernah membaca Sirah Nabawiyyah dan fase-fase sejarah kebangkitan Islam di masa Khulafaur Rasyidin, Shalahuddin al-Ayyubi atau Muhammad al-Fatih misalnya, tentu akan sepakat bahwa terwujudnya kejayaan Islam dalam skala besar itu bermula dari skala individu.

Saya tak sedang menguatkan teori bahwa dengan memperbaiki individu otomatis masyarakat dan negara akan menjadi baik. Saya paham mekanismenya tak sesederhana itu. Yang saya maksud adalah yang berhak dan layak untuk menjadi pengusung kejayaan Islam dalam skala besar adalah orang yang telah menunjukkan perwujudan Islam dalam dirinya. Kebangkitan peradaban Islam hanya akan diwujudkan oleh orang-orang yang mampu menunjukkan identitas Islam yang kaffah dan syamil pada dirinya.

Sebagai contoh, kebangkitan Islam itu selalu diusung oleh orang-orang yang berjiwa pemersatu, menyatukan umat Islam di bawah manhaj Islam yang lurus, dan tak suka berpecah-belah. Maka, kebangkitan dan kejayaan Islam yang kita cita-citakan saat ini, hanya akan bisa diwujudkan oleh orang-orang yang bertipe sama. Jika saat ini kita suka dengan kekisruhan, permusuhan dan pertikaian karena hal-hal yang sepele, maka kita tak layak menjadi bagian pejuang kejayaan Islam.

Dalam hal yang lebih sederhana lagi, salah satu ajaran penting dalam Islam adalah akhlak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya menyatakan bahwa, “Sesungguhnya hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”, hadits ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan syaikh al-Albani menshahihkannya. Akhlak merupakan bagian penting dari Islam, dan hanya orang jahil saja yang tidak mengakuinya.

Seorang yang menginginkan kejayaan Islam tentu wajib menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik dan mulia. Jika saat ini kita termasuk orang yang mengabaikan perbaikan akhlak, maka bisa jadi cita-cita kejayaan Islam yang kita lisankan hanyalah omong kosong.

Di sini saya tegaskan, saya tidak sedang mempromosikan teori ‘perbaikan akhlak adalah asas kebangkitan Islam’, sama sekali tidak. Saya hanya menyatakan bahwa seorang yang mengklaim diri sedang memperjuangkan kebangkitan Islam, selayaknya menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji, itu saja. Semoga orang yang cerdas bisa membedakan hal ini.

Negara Islam merupakan manifestasi ketundukan kita kepada Allah ta’ala, sang pencipta dan pengatur alam semesta. Perjuangan mewujudkan negara Islam bukanlah karena hasrat ingin meraih kekuasaan, ingin mendapat jabatan atau kenikmatan-kenikmatan duniawi lainnya, ia adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah ‘azza wa jalla, dalam makna yang luas.

Jika setiap orang yang sedang berjuang menegakkan negara Islam menyadari hal ini, tentu hal-hal yang selama ini terlihat kecil, tak akan lagi kita remehkan, karena ia juga merupakan bentuk ibadah kita kepada Allah ta’ala. Kita tak akan lagi meremehkan shalat nafilah, puasa sunnah atau ibadah-ibadah lain yang terkesan ‘kecil dan remeh’ bagi sebagian orang, karena semua itu adalah bentuk ibadah kita kepada Allah ta’ala.

Jika saat ini kita sering malas-malasan melaksanakan, bahkan meremehkan, berbagai ibadah yang secara fisik dan indrawi ringan penunaiannya, maka apakah kita bisa yakin keterlibatan kita dalam perjuangan mewujudkan kejayaan Islam selama ini didedikasikan sebagai ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Atau jangan-jangan, perjuangan tersebut hanya untuk target duniawi saja? Na’udzubillahi min dzalik.

Penutup

Jika kita telah berkomitmen mewaqafkan diri untuk Islam, atau berazzam menjadi pejuang Islam, menjadi bagian perjuangan membangkitkan dan menjayakan kembali Islam dan kaum muslimin, maka mari kita bersungguh-sungguh. Jangan sampai komitmen dan azzam kita itu keluar dari lisan kita, namun qalbu kita mendustakannya dan perilaku kita menunjukkan kebalikannya.

Tulisan ini tidak untuk menunjuk si A atau si B, ia lebih sebagai muhasabah diri penulis. Jika di antara pembaca ada yang merasakan keprihatinan yang sama dengan penulis, mari kita sama-sama muhasabahi diri kita. Tak usah menunjuk-nunjuk orang lain. Tunjuk saja diri kita sendiri.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *