Seimbang Dalam Menafkahkan Harta (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Furqaan, Ayat 67)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكانَ بَيْنَ ذلِكَ قَواماً

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqaan [25]: 67)

Ayat ini –sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili– merupakan salah satu ayat dari rangkaian ayat yang menyebutkan sifat ‘ibaadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang beriman dan berhak mendapatkan derajat tertinggi di surga.

Ayat ini menunjukkan salah satu sifat dari ‘ibaadurrahman adalah seimbang dalam menafkahkan harta. Mereka adalah orang-orang yang tidak berlebihan dalam membelanjakan harta untuk diri dan keluarganya, hingga melampaui keperluan. Mereka juga bukan orang-orang yang kikir hingga mengabaikan hak diri dan orang-orang yang dalam tanggungannya. Mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya secara seimbang dan adil, tidak berlebih-lebihan, tidak juga kikir. Hal ini sesuai dengan konsep umum dalam Islam, bahwa sebaik-baiknya perkara adalah pertengahannya.

Al-Maraghi menyampaikan satu riwayat, bahwa ‘Abdul Malik ibn Marwan bertanya kepada ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz saat ia menikahkan anaknya dengan ‘Umar, “Apa nafkahmu?”, ‘Umar menjawab, “Yang baik di antara dua keburukan”, kemudian ‘Umar membaca ayat ini.

Yazid ibn Abi Habib –sebagaimana disebutkan oleh Al-Maraghi– berkata: “Mereka para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memakan suatu makanan dengan tujuan meraih kenikmatan dan kelezatan. Mereka juga tidak memakai pakaian untuk keindahan. Mereka menginginkan makanan hanya untuk menghindarkan diri dari rasa lapar dan menguatkan fisik mereka dalam beribadah kepada Tuhan mereka. Dan pakaian untuk menutup aurat mereka serta melindungi mereka dari panas dan dingin.”

‘Umar ibn Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu –sebagaimana disebutkan oleh Az-Zuhaili– berkata: “Cukuplah seseorang dikatakan berlebih-lebihan, jika setiap ia menyukai sesuatu, ia akan membelinya dan memakannya.”

Perlu dipahami di sini, bahwa dilarangnya sikap berlebih-lebihan ini adalah pada hal-hal yang mubah. Artinya, ia mubah dalam takaran yang wajar dan seimbang, namun menjadi terlarang saat berlebih-lebihan dan melampaui keperluan. Dalam perkara yang jelas-jelas haram, ia merupakan israaf (berlebih-lebihan) secara keseluruhan, baik harta yang ia keluarkan sedikit atau banyak.

Adapun mengeluarkan harta dalam hal-hal yang wajib fii sabilillah, ia tidak dinilai sebagai nafkah yang berlebih-lebihan dan melampaui batas. Al-Hasan Al-Bashri –sebagaimana disebutkan oleh Az-Zuhaili– berkata: “Tidak ada sikap berlebih-lebihan dalam nafkah di jalan Allah”.

Semoga Allah memberikan kita karunia sifat yang disebutkan di ayat ini dan sifat-sifat ‘ibaadurrahman lainnya.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *