Sifat Orang-Orang Kafir (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Baqarah, Ayat 6-7)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ () خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Surah Al-Baqarah ayat 6 dan 7 ini menunjukkan sifat orang-orang kafir. Allah ta’ala menyebutkan sifat-sifat orang kafir ini setelah menyebutkan sifat-sifat orang beriman karena keduanya memiliki keterkaitan erat. Kufur adalah lawan dari iman, orang-orang beriman selamat, sedangkan orang-orang kafir celaka dan kekal di neraka.

Menurut Az-Zuhaili, riwayat yang paling shahih tentang sebab turunnya ayat ini adalah riwayat Ath-Thabari dari Ibn ‘Abbas dan Al-Kalbi bahwa dua ayat ini turun terkait para pemimpin Yahudi, di antaranya Huyay ibn Akhthab, Ka’ab ibn Al-Asyraf, dan yang semisal dengan mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mengingkari ayat-ayat Allah, serta mendustakan Al-Qur’an dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sama saja bagi mereka diberi peringatan ataupun tidak. Peringatan tersebut tidak akan membekas di hati mereka, karena ia telah tertutup hingga cahaya ilahi dan keimanan tak bisa masuk ke dalamnya. Inilah makna dua ayat ini menurut Az-Zuhaili.

Mereka telah dibutakan dari kebenaran dan ayat-ayat Allah, hingga petunjuk dan nasehat tak bisa mengubah mereka. Mereka pun mengabaikan seluruh wasilah yang bisa menyampaikan pada kebenaran, baik itu pikiran, pendengaran maupun penglihatan. Mereka telah melihat kebenaran, namun mereka tak mengikutinya. Mereka telah mendengar kebenaran, namun mereka tak menjadi pendukungnya.

Mereka mendapat siksa yang teramat pedih dan tak putus-putusnya karena mendustakan ayat-ayat Allah ta’ala.

Perlu dijelaskan di sini, maksud Allah menutup dan mengunci hati, telinga dan mata orang-orang kafir ini bukan berarti Allah memaksa mereka menjadi orang-orang kafir atau menghalang-halangi mereka untuk beriman. Allah ta’ala telah menunjukkan dua jalan bagi manusia, jalan iman dan jalan kufur. Yang memilih jalan iman akan selamat, sebaliknya yang memilih jalan kekufuran akan celaka.

Pilihan ada pada manusia, dan orang-orang kafir yang disifati di ayat ini sebenarnya bisa memilih jalan keimanan, sayangnya mereka tidak melakukannya. Petunjuk ada di depan mereka, mereka pun telah mendengar dan melihatnya, namun mereka –dengan pilihan sendiri– menolak petunjuk tersebut. Akhirnya hati, telinga dan mata mereka ditutup oleh Allah ta’ala dari kebenaran disebabkan kekafiran dan pengingkaran mereka.

Semoga Allah ta’ala menjauhkan kita dari kekufuran dan memberikan karunia husnul khatimah pada kita semua.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *