Su-ul Hifzhi (Buruk Hafalannya)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Salah satu hadits dhaif adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya. Orang yang buruk hafalannya ini disebut “Sayyi-ul hifzhi” (سيئ الحفظ).

Definisi

Sayyi-ul hifzhi adalah perawi hadits yang kebenaran hafalannya tidak dikuatkan dibandingkan kesalahannya.

Definisi di atas menunjukkan lemahnya hafalan dari perawi tersebut.

Pembagian

Sayyi-ul hifzhi terbagi menjadi dua, yaitu:

(1) Yang buruk hafalannya sejak lahir dan tetap berlangsung hingga seterusnya. Hadits yang diriwayatkan oleh orang seperti ini disebut hadits syadz menurut pendapat sebagian ahli hadits.

Riwayat orang yang seperti ini hukumnya mardud (tertolak).

(2) Yang buruk hafalannya setelah terjadinya hal tertentu pada dirinya, misal setelah lanjut usianya, atau hilang penglihatannya, atau karena kitab-kitabnya terbakar atau hilang, sedangkan ia terbiasa meriwayatkan hadits dari kitab-kitabnya tersebut. Ia dinamakan al-mukhtalith.

Riwayat orang yang seperti ini dibagi sesuai keadaan riwayatnya:

a) Jika riwayatnya disampaikan sebelum ikhtilath (keadaan orang yang mukhtalith) dan hal itu bisa ditentukan, riwayatnya maqbul (diterima).

b) Jika riwayatnya disampaikan setelah ikhtilath, riwayatnya tertolak.

c) Jika riwayatnya tidak jelas apakah disampaikan sebelum atau setelah ikhtilath, maka kita tawaqquf (mendiamkan, tidak menerima dan tidak juga menolak) terhadap riwayat tersebut, hingga bisa ditentukan keadaannya, disampaikan sebelum ikhtilath atau setelahnya.

Salah satu cara untuk menentukan riwayat ini adalah dengan melihat hadits lain yang menjadi mutaabi’ (hadits lain yang serupa lafazh atau maknanya, namun beda jalur periwayat haditsnya sebelum shahabat) dari hadits tersebut, yang lebih kuat darinya atau minimal sama kekuatan riwayatnya. Jika terdapat hadits yang menjadi mutaabi’ bagi hadits yang di-tawaqquf-kan tadi, maka haditsnya bisa diterima.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
1. Nuzhah An-Nazhar fi Tawdhih Nukhbah Al-Fikar, karya Al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani
2. Taysir Mushthalah Al-Hadits, karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *