Syadz dan Mahfuzh

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Definisi Syadz

Hadits syadz (الشاذ) adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul, yang menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih darinya utama. Ini merupakan definisi hadits syadz yang dipilih oleh Al-Hafizh Ibn Hajar.

Rawi yang maqbul adalah rawi yang adil yang sempurna kedhabithannya, atau rawi yang adil yang ringan kedhabithannya (silakan pelajari lagi penjelasan ini pada pembahasan hadits shahih dan hadits hasan). Adapun maksud rawi yang lebih utama darinya, adalah rawi yang lebih kuat, baik karena lebih dhabith, jumlah rawinya lebih banyak, dan karena alasan-alasan yang lain yang dijelaskan dalam kaidah tarjih.

B. Definisi Mahfuzh

Hadits mahfuzh (المحفوظ) adalah kebalikan dari hadits syadz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih tsiqah, yang menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah yang lebih rendah darinya.

C. Tempat Terjadinya Syadz

Syadz bisa terjadi pada sanad, bisa juga pada matan.

(1) Contoh Syadz Pada Sanad

Hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibn Majah, dari jalur Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amr ibn Dinar, dari ‘Ausajah, dari Ibn ‘Abbas:

أن رجلا توفي على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم يدع وارثا إلا مولى هو أعتقه

Artinya: “Ada seseorang meninggal pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak meninggalkan warisan kecuali satu budaknya yang telah ia merdekakan.”

Ibnu Juraij dan yang lainnya juga meriwayatkan hadits ini secara maushul (tersambung). Adapun Hammad bin Zaid meriwayatkan hadits ini dengan menyelisihi mereka. Dia meriwayatkan dari ‘Amr bin Dinar dari ‘Ausajah, dan tidak menyebutkan Ibnu Abbas.

Oleh karena itu, Abu Hatim menjelaskan: “Yang mahfuzh adalah hadits Ibnu ‘Uyainah”. Hammad bin Zaid termasuk orang yang adil dan dhabith, namun –walaupun begitu– Abu Hatim lebih menguatkan riwayat yang disebutkan oleh rawi yang lain yang jumlahnya lebih banyak.

(2) Contoh Syadz Pada Matan

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Abdul Wahid ibn Ziyad, dari Al-A’masy, dari Abi Shalih, dari Abu Hurairah secara marfu’:

إذا صلى أحدكم الفجر فليضطجع عن يمينه

Artinya: “Apabila salah satu di antara kalian shalat fajar, maka hendaklah ia berbaring ke samping kanannya.”

Al-Baihaqi berkata: “’Abdul Wahid menyelisihi sejumlah besar rawi yang lain dalam hal ini, karena mereka meriwayatkan dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dari perkataan beliau. ‘Abdul Wahid menyendiri dengan lafazh ini di antara murid-murid Al-A’masy yang tsiqah.”

D. Hukum Syadz dan Mahfuzh

Hadits syadz merupakan hadits mardud (tertolak/dhaif), sedangkan hadits mahfuzh adalah hadits yang maqbul (diterima).

Marja’:
Taysiir Mushthalah Al-Hadiits, karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *