Terjaganya Al-Qur’an, Lafazh dan Maknanya (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Qiyaamah, Ayat 16-19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa-masa awal turunnya wahyu, saat Jibril menyampaikan wahyu, beliau menggerak-gerakan lidah dan bibirnya untuk mengikuti bacaan Jibril ‘alaihis salam, khawatir bacaan tersebut terlewat dari beliau. Karena hal ini, -sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim- Allah ta’ala menurunkan firman-Nya:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ () إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ () فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ () ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ ()

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an, karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyaamah [75]: 16-19)

Syaikh Ahmad Al-Maraghi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ta’ala melarang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerak-gerakkan lidah dan bibir beliau saat Jibril membacakan wahyu. Nabi melakukan hal ini karena khawatir tidak bisa mengingat seluruh yang disampaikan Jibril, hingga beliau tergesa-gesa mengikuti bacaan Jibril tersebut.

Setelah melarang Nabi melakukan hal tersebut, Allah menjelaskan bahwa Dia yang akan membuat Nabi hafal dengan baik dan lancar membaca ayat-ayat yang disampaikan Jibril tersebut. Jadi, Nabi tak perlu tergesa-gesa untuk menghafalnya.

Di ayat berikutnya, Allah memerintahkan Nabi untuk mengikuti bacaan Jibril, setelah Jibril selesai membacakannya, bukan berbarengan dengan bacaan Jibril. Ini merupakan tafsir dari ayat فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ. Menurut Syaikh Ahmad Al-Maraghi, ayat ini juga bisa ditafsirkan, “Jika Al-Qur’an sudah dibacakan untukmu, maka amalkanlah syariat dan hukum yang ada di dalamnya”.

Ayat berikutnya lagi, Allah menjelaskan bahwa Dia juga yang akan membuat Nabi memahami makna dan penjelasan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan ke beliau. Jadi, Allah ta’ala yang akan membuat Nabi mampu membaca ayat-ayat tersebut dengan baik, menghafalnya, kemudian memahami maknanya dengan sempurna.

Syaikh Manna’ Al-Qaththan, dalam Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, menjadikan pembahasan ayat ini sebagai pengantar awal bab “Pengumpulan dan Penertiban Al-Qur’an”. Ini merupakan indikasi bahwa terjaganya Al-Qur’an, lafazh dan maknanya, pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bukti dan dalil terjaganya Al-Qur’an hingga akhir zaman. Seandainya Nabi lupa ayat-ayat yang diturunkan, tentu Al-Qur’an tidak terjaga, dan sia-sialah semua usaha para shahabat sepeninggal beliau.

Pelajaran lain dari ayat-ayat ini, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam At-Tafsiir Al-Muniir, adalah dicelanya sikap tergesa-gesa dalam semua urusan, hingga urusan agama sekalipun.

Wallahu a’lam wa ahkam.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *