Tips Untuk yang Kesulitan Mencari Guru Bahasa Arab

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Kadang ada yang ingin belajar bahasa Arab, namun beralasan tak ada guru yang mengajar, atau tak ada guru yang cocok. Nah, untuk orang-orang seperti ini, saya menyarankan beberapa hal:

1. Jangan sibuk memilih metode atau kitab rujukan tertentu

Memang saat ini banyak metode pengajaran bahasa Arab yang muncul. Ada yang menawarkan kepraktisan, ada yang menawarkan program cepat bisa, dan lain-lain. Semuanya sah-sah saja, selama tetap berpijak pada pengajaran teori bahasa Arab yang baku dan tidak membodohi calon peserta (misal dengan mengatakan: Satu hari belajar, dari nge-blank langsung pandai baca kitab Arab gundul).

Semuanya sah-sah saja untuk dipilih dan diikuti. Namun yang harus diketahui oleh kita semua, setiap metode tentu punya kelebihan dan juga KEKURANGAN. Jika anda mencari metode terbaik, tanpa kelemahan, maka seakan anda menunggu matahari terbit dari utara.

Demikian juga kitab.

Yang penting diperhatikan hanyalah, pastikan metode dan kitab rujukan yang digunakan, sesuai tahapan belajar anda. Jika anda masih pemula sekali, baru belajar, jangan langsung masuk ke Syarah Alfiyyah, Jami’ Ad-Durus Al-‘Arabiyyah, atau Mulakhkhas Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah.

Jadi, jika ada program pengajaran bahasa Arab yang sesuai tahapan belajar anda, langsung ikuti saja. Tidak usah cerewet nanya-nanya metode dan semisalnya, yang ujungnya membuat anda urung untuk belajar.

2. Pilih guru yang mumpuni ilmunya

Jika ada dua pengajar, pilihlah yang paling mumpuni ilmunya. Inilah tradisi para penuntut ilmu di masa lalu. Mereka mencari guru-guru yang paling mumpuni dalam setiap cabang ilmu dan bermulazamah dengan mereka, serta tak menyibukkan diri dengan selain mereka.

Namun ini dengan ketentuan, memang ada yang dipilih. Jika kebetulan anda hanya menemukan satu orang guru, maka belajarlah dengan guru tersebut, selama ia memang mampu mengajar. Tidak perlu menunggu yang lebih mumpuni, jika itu membuat anda malah tidak belajar.

3. Jangan terlalu memandang afiliasi dari pengajar

Kadang, yang salafi tidak mau belajar, kecuali ke ustadz salafi. Yang aswaja tidak mau belajar, selain ke guru yang aswaja juga. Anggota harakah A, tidak mau belajar, kecuali ke ustadz dari harakahnya sendiri. Warga ormas B, tidak mau belajar, kecuali ke ustadz dari ormasnya sendiri.

Hal ini keliru dilihat dari beberapa sisi. Selain mengkotak-kotakkan diri yang bisa jadi berujung pada ta’ashshub dan kavling surga, ia juga bisa menghambat proses belajar kita.

Sebagian ikhwah pernah menyatakan bahwa di kota atau daerahnya tidak ada yang bisa ngajar bahasa Arab. Benarkah demikian? Padahal di sana ada pesantren. Di sana juga ada Islamic Center. Di sana juga ada beragam ormas dan pergerakan Islam. Ternyata, yang ia maksud tidak ada yang bisa ngajar, adalah yang berasal dari komunitasnya sendiri. Nah!!!

Padahal ini bahasa Arab. (Secara umum) Yang marfu’ tetaplah marfu’, walaupun yang ngajar itu syaikh Salafi, kiyai aswaja, atau ustadz dari Jamaah Tabligh. Maf’ul bih tetap manshub, siapapun yang ngajar, baik dari NU, Muhammadiyah, HT, ataupun Hidayatullah.

Jika pun anda benar-benar khawatir terpengaruh “syubhat”. Ambil saja faidah bahasa Arabnya, dan tinggalkan apapun yang disampaikan sang ustadz di luar pengajaran bahasa Arab. Selesai.

Namun, tentu lebih elok, jika anda dengarkan juga faidah-faidah lainnya, siapa tahu, ada fawaid dan ilmu baru, yang anda belum dapatkan di komunitas anda. Wawasan anda semakin luas, dada anda semakin lapang.

4. Jangan protes jika belajarnya lama

Sebagian orang tidak mau belajar bahasa Arab, bukan karena tidak ada yang ngajar, tapi karena guru yang ada mengajar dengan metode jadul, dan -ini yang paling tidak menyenangkan bagi mereka- LAMA.

Banyak yang mencari metode cepat, kalau memungkinkan secepat kilat. Lalu lahirlah metode BALAT (Bahasa Arab Secepat Kilat). Ketika ditawarkan metode yang agak lama, selesai 1 tahun atau 2 tahun, mereka langsung mundur teratur.

Padahal ikhwah fillah, ada ungkapan yang sangat masyhur: “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Artinya, belajar itu sampai mati. Tidak ada kata tamat belajar, kecuali habis umur. Jadi, untuk apa harus cepat-cepat?

Imam Asy-Syafi’i dulu nyantri kepada Imam Malik belasan tahun. Beliau baru ‘tamat belajar’ di pesantrennya Imam Malik, saat Imam Malik wafat. Banyak juga penuntut ilmu yang nyantri 20 tahun, 30 tahun, bahkan lebih ke ulama tertentu.

Kesimpulannya, lama itu tak masalah. Bahkan, belajar lama itu lebih dekat pada tradisi ulama. Jika tidak mencontoh ulama, lalu mau mencontoh siapa?

Sedangkan ingin cepat selesai, ingin cepat bisa, itu bisa jadi termasuk ketergesaan yang tercela, berasal dari syaithan.

Mau ikut ulama atau ikut syaithan?

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *