Ujian Keimanan (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-‘Ankabuut, Ayat 2-3)

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 2-3)

Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ {Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?} merupakan pertanyaan yang berisi pengingkaran. Makna dari ayat ini adalah bahwa Allah ta’ala tentu akan memberikan ujian bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, sesuai dengan kadar keimanan mereka.

Hal ini sesuai dengan hadits shahih riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

Artinya: “Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, setelah itu orang yang selanjutnya dan selanjutnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya.”

Al-Qurthubi mengutip satu riwayat dari Ibn ‘Abbas, bahwa ayat ini berbicara tentang sekelompok orang beriman di Makkah yang mendapatkan siksaan dari orang-orang kafir Quraisy, misalnya Salamah ibn Hisyam, ‘Ayyasy ibn Abi Rabi’ah, Al-Walid ibn Al-Walid, dan ‘Ammar ibn Yasir beserta ayah dan ibunya.

Namun, jika pun shahih riwayat bahwa ayat ini turun terkait beberapa orang shahabat yang mendapat siksaan dari orang-orang kafir Quraisy, ia tetap berlaku bagi umat Muhammad sepanjang masa. Hal ini misalnya disebutkan oleh Ibn ‘Athiyyah, sebagaimana dikutip oleh Al-Qurthubi. Artinya, orang-orang beriman tidak akan dibiarkan menyatakan dirinya beriman, tanpa mendapatkan ujian dari Allah ta’ala.

Ayat berikutnya menunjukkan bahwa cobaan ini bukanlah hal yang baru dan hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan sunnatullah yang berlaku terus-menerus, baik di masa lalu, sekarang, maupun akan datang. Hal ini disebutkan oleh Az-Zuhaili dalam kitab tafsir beliau.

Tujuan adanya ujian ini adalah untuk menampakkan siapa yang benar imannya dan siapa yang berdusta, sehingga mereka akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal mereka masing-masing.

Semoga Allah menolong dan merahmati kita, hingga kita bisa lulus dari ujian-Nya, dan mendapatkan balasan yang terbaik dari-Nya.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *